Merek adalah Sakral (1)
Merek adalah Sakral
Dalam situasi persaingan yang makin ketat, merek memang kontroversial. Ada yang berpendapat, mereka tidak perlu. Sebab, bila konsumen semakin kritis, pintar dan mengerti, mereka akan membeli produk mere kapa saja—asal murah dan bagus.
Ada pula yang berpendapat, justru merek menjadi semakin penting. Karena, konsumen memburu harga, produsen pun enggan mempertahankan merek. Pada situasi ini, produsen yang konsisten mereknya akan berjaya.
Seharusnya, merek jadi semakin sakral. Karena semakin sulit
ditingkatkan ekuitasnya, makin sulit pula menjaga loyalitas konsumen. Harus diingat,
brand is not just a name, a symbol or a slogan. Tidak semua nama pada
produk/jasa, otomatis menjadi merek riil yang kuat. Juga, tidak semua nama yang
didaftarkan di Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek, otomati
s jadi
merek berharga.
Demikian pula, gambar yang dipakai sebagai symbol/logo merek. Apalagi slogan—meski sering kita iklankan untuk mendampingi nama dan logo suatu merek, tidak otomatis melekat di benak konsumen. Slogan memerlukan perjuangan yang berat untuk membentuk citra yang dikehendaki dari identitas merek.
Namun, citra merek di benak konsumen, belum tentu sama dengan identitas merek yang dikehendaki pemasar. Nah, kalau sudah begini, kita jadi semakin sadar bahwa diperlukan banyak tenaga, pemikiran dan uang untuk mengubah sebuah nama, logo plus slogan yang mengiringinya untuk bisa menjadi ekuitas merek yang kuat.


