Monday, October 31, 2022

Merek adalah Sakral (1)

 

Merek adalah Sakral

Dalam situasi persaingan yang makin ketat, merek memang kontroversial. Ada yang berpendapat, mereka tidak perlu. Sebab, bila konsumen semakin kritis, pintar dan mengerti, mereka akan membeli produk mere kapa saja—asal murah dan bagus.

Ada pula yang berpendapat, justru merek menjadi semakin penting. Karena, konsumen memburu harga, produsen pun enggan mempertahankan merek. Pada situasi ini, produsen yang konsisten mereknya akan berjaya.

Seharusnya, merek jadi semakin sakral. Karena semakin sulit ditingkatkan ekuitasnya, makin sulit pula menjaga loyalitas konsumen. Harus diingat, brand is not just a name, a symbol or a slogan. Tidak semua nama pada produk/jasa, otomatis menjadi merek riil yang kuat. Juga, tidak semua nama yang didaftarkan di Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek, otomati
s jadi merek berharga.

Demikian pula, gambar yang dipakai sebagai symbol/logo merek. Apalagi slogan—meski sering kita iklankan untuk mendampingi nama dan logo suatu merek, tidak otomatis melekat di benak konsumen. Slogan memerlukan perjuangan yang berat untuk membentuk citra yang dikehendaki dari identitas merek.

Namun, citra merek di benak konsumen, belum tentu sama dengan identitas merek yang dikehendaki pemasar. Nah, kalau sudah begini, kita jadi semakin sadar bahwa diperlukan banyak tenaga, pemikiran dan uang untuk mengubah sebuah nama, logo plus slogan yang mengiringinya untuk bisa menjadi ekuitas merek yang kuat.

Labels: ,

Terus terhubung pada pijakan yang sama (1)

 Kenapa kita tidak perlu mengetahui apa yang diimpikan oleh para kolega, rekan kerja, teman, dan keluarga kita? Informasi itu akan sangat bermanfaat. Informasi itu akan sangat membantu untuk mempertahankan jalan dimana Anda dan mereka yang berada di lingkaran pengaruh Anda meraih apa yang diinginkan.

Apakah Anda tahu apa yang memotivasi orang-orang di sekitar Anda? Ada cara-cara sederhana untuk mengetahuinya. Dan saat anda mendaptkan informasi ini, proses untuk menghubungkan hasil yang Anda inginkan dengan tujuan-tujuan mereka itu sederhana:

1.     Bersikaplah tulus. Jangan apa pun yang tidak bisa Anda berikan.

2.     Bersikaplah penuh empat. Tanyakan kepada diri Anda apa yang benar-benar diinginkan orang lain.

3.     Pikirkan keuntungan yang akan orang itu dapatkan jika melakukan apa yang Anda sarankan.

4.     Cocokkan keuntungan itu dengan keinginan orang tersebut.

5.     Saat Anda mengajukan permintaan, tulis di sebuah form yang menyampaikan keuntungan-keuntungan yang akan dituai orang itu jika melakukannya.

Semakin banyak yang Anda ketahui dari orang lain dan semakin banyak yang orang lain ketahui dari Anda, akan lebih mudah untuk menemukan pijakan bersama untuk mendasari seluruh kreativitias dan kolaborasi di masa depan.


Monday, December 19, 2016

How To Manage Our Age

Bagaimana me manage umur kita?

Dewasa ini telah banyak orang-orang besar atau sukses, tidak hanya dunianya, melainkan juga akhiratnya. Begitulah prinsip yang harus dikedepankan oleh umat islam. Pun dengan kiat-kiat sukses. Bagaimana cara agar sukses?

 

 

Berikut sedikit ilmu yang dapat saya ambil dari hasil diskusi dengan Ustadz Wiwid Purwawan, Lc. M.Si strategi sukses versi beliau;
Umur ini, bilamana dirata-rata bahwa kematian seseorang kini sekitar 60 tahunan maka ada tiga garis besar, yakni:

PERIODE PERTAMA:

20 tahun pertama; 

Fokus dalam perkembangan diri menuju kedewasaan seseorang, baik pria maupun wanita, sebagaimana kita ketahui bahwa periode usia ini masih dalam labil-labilnya manusia, meskipun tidak sedikit juga orang yang telah matang dalam tahap ini. Contoh perkembangan diri dalam hal ini adalah: fisik, kemantapan keimanan, pendidikan dan kematangan dalam mengambil keputusan. Dalam tahap ini juga manusia itu dalam perjuangan (semangat) yang tinggi-tingginya. Dengan kata lain saatnya bersusah-payah dan berkorban demi masa depan yang lebih baik itu memang pantas di usahakan.

PERIODE KEDUA:

20 tahun kedua; dibagi menjadi dua periode, 10 tahun pertama dan 10 tahun kedua.

10 tahun pertama (30-39 tahun):

Berhasilnya menyelesaikan pendidikan strata satu (pascasarjana) hingga telah terlewati strata tiga (doktoral). Buah hasil istiqomah dan susah-susah pada 20 tahun pertama (lihat periode pertama). Tentu saja dengan gelar doktor dan modal yang sangat mumpuni (ketrampilan dalam berbahasa, pekerjaan, penghasilan tetap, menikah dan berkeluarga) sebelum umur 40 tahun, InsyaAllah dunia-akhirat pasti dapat.

10 kedua (40 tahun): 

Jika kita cemerlang, artinya sukses dalam tahap periode sampai 39 tahunan tentunya mulai banyak penawaran-penawaran, entah itu berbentuk pekerjaan yang lebih bergengsi dan amanah-amanah lain yang lebih berbobot dan sesuai dengan kualitas kita, disini kita harus cermat, harus memiliki visi agar tidak mudah menjadi alat orang lain. Karena seseorang tanpa visi (tujuan) hidup itu bisa diibaratkan juga bagaikan buih yang terapung-apung ditengah lautan. HARUS PUNYA VISI. Mengapa? Karena kita seseorang yang profesional, tentunya kita (misalkan) kelak telah diterima dalam suatu perusahan internasional (atau apalah sesuatu yang bergengsi) mereka tentunya melihat dari kualitas kita yang memadai untuk bekerja dalam perusahaan, jika kita tidak memiliki tujuan mau apa kita bekerja atau kenapa kita harus bantu perusahaan itu, tentunya kita cuman jadi ‘alat’ perusahaan tersebut. Saya pikir anda sudah paham poin saya disini. Dan satu lagi, pergaulan kita harus sudah di level internasional, entah itu channel  kita dengan para pengajar di universitas-universitas luar ataupun kolega bisnis kita. Intinya punya temen bule. Untuk apa? Tentunya anda lebih mengerti dalam hal ini.

PERIODE KETIGA

Dibagi menjadi 10 tahun pertama dan kedua. 

10 tahun pertama: 

Dalam usia 50 tahunan adalah masa-masa dimana kita sedang semangatnya dalam menjadi pemimpin. Karena pengalaman yang matang di 40 tahun sebelumnya, tentunya tidak diragukan lagi kepemimpinan kita dalam kurun waktu ini. Pimpinan di suatu perusahaan, pimpinan di suatu pemerintahan (DPR dan sejenisnya).

10 tahun kedua: 

Dalam usia 60 tahunan kita sudah memasuki masa regenerasi kepemimpinan. Periode ini memang mau tidak mau kita menerimanya, selain dari faktor usia kita yang sudah dipanggil kakek atau juga nenek. Memang sudah waktunya kita untuk istirahat dan menyerahkan tampuk kekuasaan pada orang-orang yang usianya lebih fresh dari kita dan tentunya harus ada regenerasi kepemimpinan agar orang yang usianya lebih muda dari kita juga dapat mengalami fase-fase yang kita telah lewati. Karena simpel aja, seekor kupu-kupu tidak akan jadi kupu-kupu yang sempurna bila tidak melewati fase-fase pertumbuhannya. Meskipun dia jadi seekor kupu-kupu pasti ada kecacatan yang dialaminya.


-msaidr
19|12|2016

Labels: , , ,